Mengutip artikel dari www.myvitmine.co.id, ketika membayangkan negara tropis, banyak orang memikirkan pantai, matahari sepanjang tahun, dan keanekaragaman hayati yang subur. Namun di balik keindahan itu, ada ancaman yang mengintai dan terus hadir setiap tahun: penyakit tropis yang disebarkan oleh nyamuk.

Di antara yang paling mengkhawatirkan adalah malariademam berdarah dengue (DBD), dan chikungunya—tiga penyakit yang merenggut kesehatan dan produktivitas masyarakat.

Di Indonesia, penyakit-penyakit ini sering kali muncul kembali setiap musim hujan, mengisi ruang UGD rumah sakit, mempengaruhi produktivitas ekonomi, dan menjadi tantangan bagi pemerintah Indonesia.

Malaria

Malaria adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit Plasmodium, dengan jenis yang paling berbahaya adalah Plasmodium falciparum. Parasit ini hidup dan berkembang biak di dalam sel darah manusia, menyebabkan kerusakan sistemik pada tubuh.

Nyamuk Anopheles tidak sekadar menjadi pembawa penyakit malaria. Ia adalah rumah sementara tempat parasit berkembang biak. Ketika menggigit manusia, parasit masuk ke aliran darah, kemudian ke hati, lalu kembali lagi ke darah untuk menyerang sel darah merah.

Bahkan parasitnya mengalami mutasi yang lebih mengerikan karena bisa bersembunyi di liver, menyerang sel darah merah, bahkan membentuk resistensi terhadap obat-obatan.

Apa saja gejala malaria? 

Gejala yang muncul tidak selalu langsung tampak. Ada masa inkubasi 7–30 hari, tergantung jenis plasmodium.

Gejala umum meliputi:

  • demam tinggi bersifat siklik
  • menggigil hebat
  • keringat berlebih setelah demam
  • anemia
  • nyeri otot
  • sakit kepala intens
  • mual atau muntah

Dan pada kasus malaria berat, komplikasinya bisa fatal:

  • malaria serebral (kerusakan otak)
  • gagal ginjal
  • gangguan pernapasan akut
  • kejang
  • dan bahkan bisa koma

Bagaimana kondisi malaria di Indonesia?

Hingga saat ini, malaria masih menjadi salah satu penyakit paling mematikan di dunia. Menurut laporan, Indonesia masih menempati posisi kedua dengan kasus tertinggi di Asia setelah India. Jumlah kasus malaria di Indonesia pada tahun 2023 adalah 418.546 kasus dengan hampir 95% kasusnya berasal dari wilayah timur, terutama papua.

Meski penanganan terus ditingkatkan, malaria masih menjadi penyakit endemis di Papua, Papua Barat, NTT, Maluku, dan sebagian Kalimantan. Tantangannya bukan hanya medis, tetapi geografis: banyak daerah endemis berada di lokasi terpencil dengan akses kesehatan terbatas.

Selain itu, perpindahan penduduk—misalnya buruh, pekerja tambang, atau transmigran—membawa risiko penularan ke wilayah baru yang sebelumnya tidak endemis.

Penyakit malaria juga termasuk penyakit yang sulit diberantas sepenuhnya, karena:

  • parasit dapat tidur di liver selama bertahun-tahun
  • resistensi obat mulai muncul
  • nyamuk Anopheles beradaptasi dengan perubahan lingkungan
  • pencegahan bergantung pada kontrol lingkungan dan kebiasaan masyarakat

Tapi untungnya, pemerintah Indonesia berkomitmen dalam pemberantasan malaria dengan menargetkan Indonesia bebas malaria di tahun 2030. Semoga dengan komitmen dari pemerintah, dapat menekan kasus malaria terutama di wilayah Indonesia Timur.

Demam Berdarah Dengue (DBD)

DBD disebabkan oleh virus dengue, yang memiliki empat serotipe: DENV-1, DENV-2, DENV-3, dan DENV-4. Inilah yang membuat seseorang bisa terkena DBD berkali-kali. Ironisnya, infeksi kedua justru lebih berbahaya karena reaksi imun tubuh yang berlebihan. Nyamuk Aedes aegypti adalah nyamuk yang sangat pintar beradaptasi. Nyamuk ini:

  • aktif di pagi dan sore
  • suka hidup di dalam rumah
  • berkembang biak di wadah air bersih seperti pot, vas bunga, atau ember
  • memiliki daya jelajah yang pendek, sehingga sangat efektif menyebar di pemukiman padat penduduk

DBD memiliki pola “siklus ledakan" setiap 3–5 tahun, karena dinamika sistem imun populasi. Ketika banyak orang sudah kembali “rentan", kasus langsung meledak.

Apa aja gejala DBD?

Beberapa gejala awal sering dianggap flu biasa, tapi semua mulai bertambah parah dalam jangka waktu 1 minggu:

  • demam tinggi mendadak
  • nyeri mata
  • nyeri otot dan sendi
  • mual
  • bintik merah pada kulit
  • trombosit turun pada hari ke-3 hingga ke-7

Kondisi dapat memburuk dengan cepat, seperti:

  • perdarahan spontan
  • kebocoran plasma (plasma leakage)
  • penurunan tekanan darah
  • syok dengue

Kenapa Indonesia sangat rawan DBD?

Menurut Surat Edaran Kemenkes tahun 2025, kasus DBD di 2024 tercatat 230.397 kasus yang terkonfirmasi, dengan 1.327 kematian. Ini disebabkan oleh beberapa faktor:

  • banyak kota besar padat penduduk
  • sanitasi air rumah tangga kurang
  • hujan tidak teratur menyebabkan genangan
  • masyarakat sering menutup mata soal kebersihan lingkungan

Masalah ini sulit diberantas karena padatnya penduduk di Indonesia. Memang ada penyuluhan dan tindakan dari pemerintah, tapi itu tidak cukup jika masyarakatnya tidak turut andil dalam menjaga lingkungannya.

Chikungunya

Chikungunya adalah penyakit virus yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Nama “chikungunya" berasal dari bahasa Makonde yang berarti “membungkuk", karena penderita sering terlihat membungkuk akibat nyeri sendi ekstrem.

Walau tingkat kematiannya rendah dibanding DBD, penyakit ini sangat melemahkan dan bisa mengganggu aktivitas sehari-hari selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Penyakit ini sering disalahartikan sebagai DBD karena gejala awalnya mirip, sehingga sering terlambat didiagnosis.

Bagaimana gejala chikungunya?

Gejala muncul 3–7 hari setelah digigit nyamuk. Tingkat keparahannya berbeda-beda:

Ada gejala awal:

  • Demam tinggi mendadak
  • Nyeri sendi hebat dan nyeri otot
  • Ruam kulit berbintik merah
  • Sakit kepala dan kelelahan ekstrem

Dan ada gejala lanjutan (bisa bertahan berminggu-minggu):

  • Nyeri sendi kronis di tangan, kaki, pergelangan, dan lutut
  • Kekakuan sendi
  • Kelelahan yang berkepanjangan
  • Gangguan mobilitas ringan sampai sedang

Sekitar 5–10% penderita mengalami nyeri sendi yang bertahan hingga 3–12 bulan. Kondisi ini dapat mempengaruhi produktivitas kerja, kegiatan sekolah, dan kehidupan sehari-hari.

Bagaimana chikungunya menyebar?

  • Nyamuk Aedes betina menggigit orang yang terinfeksi virus.
  • Virus berkembang dalam tubuh nyamuk selama 4–10 hari.
  • Ketika nyamuk menggigit orang lain, virus masuk ke aliran darah orang baru tersebut.
  • Dan parahnya, nyamuk Aedes aktif pada pagi dan sore, sehingga penularan dapat terjadi saat orang sedang beraktivitas di luar rumah.

Kenapa penyebaran chikungunya sangat cepat di Indonesia?

  • Karena kepadatan penduduk di perkotaan, sehingga nyamuk mudah berpindah
  • Banyaknya genangan air dan wadah air rumah tangga mengakibatkan nyamuk dapat berkembang biak dengan cepat
  • Banyaknya penduduk desa yang bermigrasi ke kota, menyebabkan perpindahan virus antar wilayah

Bagaimana Pencegahannya?

  • Menghilangkan sarang nyamuk

Dengan metode 3M:

  1. menguras tempat penampungan air
  2. menutup wadah air
  3. mengubur barang bekas yang dapat menampung air
  • Perlindungan pribadi
    1. menggunakan repelan
    2. memasang kelambu
    3. memakai pakaian panjang
    4. menggunakan lotion anti-nyamuk bagi anak-anak
  • Fogging: 

Fogging hanya membunuh nyamuk dewasa. Tanpa membersihkan jentik, populasi akan kembali dalam hitungan minggu.

  • Penguatan sistem kesehatan di masyarakat
    1. deteksi dini malaria
    2. pemeriksaan laboratorium cepat dengue/chikungunya
    3. edukasi keras untuk masyarakat
  • Vaksin dengue

Beberapa vaksin dengue sudah tersedia, namun:

  1. efektivitas tergantung serotipe
  2. regulasi masih ketat
  3. tidak untuk semua usia

Penyakit tropis seperti malaria, DBD, dan chikungunya bukan sekadar isu musiman, tetapi tantangan kesehatan publik yang terus berkembang seiring perubahan iklim, mobilitas penduduk, dan kondisi lingkungan.

Setiap penyakit memiliki karakter unik: malaria yang mematikan, DBD yang tidak bisa dianggap enteng karena risiko syok dengue, dan chikungunya yang melemahkan dengan nyeri sendi berkepanjangan.

Ironisnya, di negara tropis seperti Indonesia, penyakit-penyakit ini adalah bagian dari ekosistem; mereka tidak akan hilang begitu saja.

Pada akhirnya, solusi paling efektif tetap berada di tangan masyarakat: menjaga kebersihan lingkungan, menghilangkan sumber nyamuk, mendeteksi gejala lebih awal, dan tidak menunda perawatan medis. Kita mungkin tidak bisa mengubah iklim tropisnya, tetapi kita bisa mengubah cara menghadapi penyakit tropisnya.

Beberapa artikel yang mungkin menarik minat kamu

artikel dan berita

lihat semua berita hanwha
artikel
08 / Jun / 2026

Tropical Diseases: Ancaman Tak Terlihat di Negara Tropis

baca selengkapnya
artikel
02 / Jun / 2026

Quarter-Life Crisis: Normal atau Harus Khawatir?

baca selengkapnya
artikel
25 / May / 2026

Gen Z: Cara Cerdas Menambah Penghasilan di Era Online

baca selengkapnya
artikel
19 / May / 2026

Gaya Hidup: Dompet Digital Memudahkan, Tapi Dapat Juga Menjebak

baca selengkapnya
artikel
08 / May / 2026

Mengubah Hobi Menjadi Penghasilan

baca selengkapnya
artikel
17 / Apr / 2026

FinTok dan Edukasi Finansial dari Media Sosial

baca selengkapnya