Media sosial memiliki peran besar dalam membentuk kebiasaan finansial Gen Z. Konten tentang lifestyle, fashion, kuliner, hingga traveling sering kali menciptakan standar hidup tertentu yang ingin diikuti. Fenomena FOMO (Fear of Missing Out) membuat banyak anak muda merasa harus selalu up-to-date dengan tren terbaru, meskipun kondisi keuangan belum tentu mendukung. Fenomena FOMO (Fear of Missing Out) membuat Gen Z cenderung membeli sesuatu bukan karena kebutuhan, tetapi karena ingin “ikut tren”. Akibatnya, pengeluaran sering kali didorong oleh keinginan untuk terlihat relevan secara sosial, bukan berdasarkan kebutuhan nyata. Hal ini dapat berdampak pada kondisi finansial jangka panjang, terutama jika tidak diimbangi dengan perencanaan keuangan yang matang. Namun di sisi lain, muncul tren baru: Gen Z mulai lebih sadar dan selektif dalam spending. Banyak yang mulai:
● Membandingkan harga
● Menunggu promo
● Memilih barang preloved (thrifting)
Dari fakta ini kita bisa menyimpulkan sebagian Gen Z kini mulai mengadopsi gaya hidup yang lebih sadar finansial, seperti memilih produk dengan value terbaik, memanfaatkan promo secara strategis, hingga membeli barang preloved. Perubahan ini menunjukkan bahwa kesadaran akan pentingnya literasi keuangan mulai tumbuh, meskipun masih dalam tahap adaptasi.
(Sumber referensi :
https://www.idxchannel.com/milenomic/5-fakta-unik-tentang-tren-keuangan-gen-z-bagaimana-spending-habit-nya)