Bulan Ramadhan sangat identik dengan yang namanya kebersamaan. Namun, di balik itu, terdapat lonjakan konsumsi yang sangat signifikan. Seperti acara bukber yang hampir diadakan setiap minggu, hampers, dan belanja lebaran sering kali menguras anggaran tanpa disadari.
Dari faktor konsumsi ini, Gen Z cenderung terdorong oleh tren yang sedang “hype”. Seperti tempat buka puasa yang sedang viral hampir pasti menjadi tujuan utama. Keputusan belanja sering kali dipicu oleh suasana dan pengaruh sosial. Bukber bukan hanya makan bersama, tetapi juga konten dan simbol pergaulan. Tantangannya adalah sulit membedakan antara kebutuhan sosial dan tekanan gaya hidup. Sedangkan kaum millennial bisa terbilang lebih rasional, tetapi tetap menghadapi tekanan sosial untuk hadir dalam suatu acara keluarga dan komunitas yang pastinya akan sangat sulit dihindari di bulan Ramadhan ini.
Perbedaan dari kedua generasi ini terletak pada cara mengontrol diri. Jadi akan sangat baik apabila dari generasi Gen Z mulai mengenal dan mempelajari konsep “no-spend day”, sementara para kaum millennial membatasi kategori pengeluaran. Keduanya sangat bisa dipelajari di bulan yang penuh kebaikan ini dan pastinya kebiasaan ini menunjukkan bahwa pengendalian diri bisa dilatih selama bulan Ramadhan. Dalam perspektif perlindungan keuangan, pengendalian konsumsi memiliki makna lebih luas. Ketika pengeluaran bisa dikendalikan, ruang untuk dana darurat dan proteksi menjadi lebih besar. Proteksi tidak lagi dianggap beban, melainkan bagian dari
prioritas. Terkadang, bulan Ramadhan ini mengajarkan bahwa menahan diri bukan berarti mengurangi kebahagiaan. Justru, kebahagiaan muncul ketika keuangan lebih tenang dan risiko hidup lebih siap dihadapi. Pengeluaran sosial tetap penting, tetapi keseimbangan adalah kuncinya.